Menurut Barbara D.Ingersol, Ph.D dan Sam Goldstain, gangguan bipolar (juga dikenal sebagai ganguan manik depresif) adalah "suatu kondisi yang dicirikan oleh episode depresi yang diselingi dengan periode manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik". Fase peningkatan ini disebut mania. Gejalanya mungkin mencakup berpikir dengan sangat cepat. Cerewet, dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Bahkan, sipenderita dapat terjaga selama berhari-hri tanpa tidur, tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kehabisan energi. Gejala lain dari gangguan bipolar adalah perilaku yang sangat impulsif tanpa memikirkan konsekwensi.
"Mania sering kali mempengaruhi cara berpikir, penilaian, dan prilaku sosial dengan cara yang menimbulkan problem serius dan hal-hal yang memalukan," kata laporan yang dibuat oleh Institut Kesehatan Mental Nasional AS. Berapa fase mania ini berlangsung? kadang-kadang hanya beberapa hari; dalam kasus lain, mania terus berlangsung selama beberapa bulan sebelum akhirnya digantikan oleh pasangannya, depresi.
Yang paling beresiko mengalami gangguan bipolar adalah orang-orang yang anggota keluarganya mengidap penyakit itu. Kabar baiknya adalah bahwa ada harapan bagi para penderita. "Jika didiagnosis lebih awal, dan ditangani sepatutnya," kata buku The Bipolar Child,"anak-anak itu serta keluarga mereka dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih setabil."Penting untuk diperhatikan bahwa satu gejala saja tidak memperlihatkan adanya depresi atau gangguan bipolar. Seringkali diagnosis didapat dari serentetan gejala yang terlihat selama suatu jangka waktu
Apa penyebab gangguan afektif? Seperti apa rasanya diserang depresi atau gangguan bipolar? Bagaimana para penderita—dan orang-orang yang merawat mereka—dapat menerima dukungan yang dibutuhkan?
Dalam tahun-tahun belakangan ini, gangguan bipolar telah mendapat lebih banyak perhatian publik. Gejala penyakit ini mencakup perubahan suasana hati yang parah, yang bolak-balik antara depresi dan mania.## "Selama fase depresi," kata sebuah buku yang baru diterbitkan oleh Ikatan Dokter Amerika, "Anda mungkin dihantui oleh gagasan untuk bunuh diri. Selama fase mania penyakit Anda, penilaian Anda yang baik mungkin lenyap dan Anda mungkin tidak bisa melihat bahayanya tindakan Anda."
Gangguan bipolar mungkin mempengaruhi 2 persen penduduk Amerika Serikat, yang berarti ada jutaan penderita di negeri itu saja. Namun, angka saja tidak dapat melukiskan betapa tersiksanya hidup dengan gangguan afektif.
"Kestabilan adalah tempat bertamu penderita bipolar. Tak seorang pun dari kami yang benar-benar tinggal disitu."—Gloria
DEPRESI KLINIS memang penuh tantangan. Namun, sewaktu ditambah lagi dengan mania, hasilnya disebut gangguan bipolar.### "Satu-satunya hal yang konsisten tentang gangguan bipolar adalah bahwa itu tidak pernah konsisten." kata seorang penderita bernama Lucia. Selama mania, kata The Harvard Mental Health Letter, pasien bipolar "dapat sangat suka ikut campur dan mendominasi. Dan euporia mereka yang sembarangan dan tidak bisa diam bisa tiba-tiba berubah menjadi kekesalan atau kemarahan".
Lenore mengingat pengalamanya sewaktu dilanda mania. "Saya memiliki energi yang meluap-luap," katanya. "Banyak orang menjuluki saya wanita super. Orang bilang, 'Seandainya saya bisa seperti kamu'. Saya sering merasa sangat kuat, seolah-olah saya dapat melakukan apa saja. Saya melakukan kegiatan harian dan hanya sedikit tidur—dua atau tiga jam semalam. Namun saya bangun dengan tingkat energi yang sama tingginya."
Tetapi, pada waktunya, awan hitam mulai merundung Lenore. "Di puncak euporia saya," katanya, "saya merasakan gejolak jatuh di dalam diri saya, bagaikan mesin yang tidak bisa dimatikan. Tiba-tiba suasana hati saya yang menyenangkan menjadi agresif dan destruktif. Saya melancarkan serangan verbal terhadap seorang anggota keluarga tanpa alasan. Saya marah, benci, dan benar-benar tak terkendali. Setelah memperlihatkan perilaku yang menakutkan ini, saya tiba-tiba merasa lelah, ingin menangis dan sangat depresi. Di pihak lain, saya bisa berubah lagi ke diri saya yang sangat ceria itu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Perilaku yang tidak karuan akibat gangguan bipolar ini merupakan sumber kebingungan bagi para anggota keluarga. Mary, yang suaminya menderita gangguan bipolar, menyatakan, "Bingung rasanya melihat suami saya yang bahagia dan senang bicara kemudian tiba-tiba menjadi putus asa dan pendiam. Kami benar-benar berjuang untuk menerima fakta bahwa ia tidak sanggup mengendalikan hal ini.
Ironisnya, gangguan bipolar sering kali sama menyusahkanya—bagi sang penderita. "Saya iri pada orang-orang yang punya keseimbangan dan kestabilan dalam kehidupan mereka," kata seorang pasien bipolar bernama Gloria. "Kestabilan adalah tempat bertamu penderita bipolar. Tak seorang pun dari kami yang benar-benar tinggal disitu."
Apa penyebab gangguan bipolar? Salah satunya adalah faktor genetis—yang lebih kuat dari pada faktor depresi. "Menurut beberapa kajian ilmiah," kata Ikatan Dokter Amerika, "anggota keluarga dekat—orang tua, kakak, adik, atau anak-anak—dari penderita depresi bipolar lebih cenderung mengalami penyakit ini 8 hingga 18 kali daripada anggota keluarga dekat dari orang yang sehat. Selain itu, memiliki seorang anggota keluarga dekat yang menderita depresi bipolar dapat membuat Anda lebih rentan terkena depresi mayor."
Kontras dengan depresi, gangguan bipolar tampaknya menyerang pria dan wanita dalam jumlah yang sama. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis pada remaja dan bahkan anak-anak. Meskipun demikian, menganalisis gejalanya dan menarik kesimpulan yang benar dapat sangat sulit bahkan bagi seorang pakar medis. "Gangguan bipolar adalah bunglonnya gangguan kejiwaan, mengubah tampilan gejalanya dari satu pasien ke pasien lain, dan dari satu episode ke episode lain bahkan pada pasien yang sama," tulis dr. Francis Mark Mondimore dari Fakultas Kedokteran di Jhons Hopkins University.
"Ia bagaikan siluman yang dapat menyelinap mendatangi korbanya dengan berjubahkan gelapnya kesedihan tetapi kemudian menghilang selama bertahun-tahun—lantas datang kembali dengan berjubahkan mania yang terang-benderang tetapi berapi-api."
Jelaslah, gangguan afektif sulit didiagnosis dan bahkan dapat lebih sulit lagi bagi penderitanya. Tetapi ada harapan bagi para penderita.
DAHULU Orang cenderung menghindari penderita gangguan afektif. Akibatnya, banyak penderita menjadi tersisih dari masyarakat. Ada yang menghadapi diskriminasi pekerjaan. Yang lainya dijauhi oleh para anggota keluarga mereka sendiri. Seringkali hal ini hanya memperparah masalahnya dan mencegah orang yang sakit mendapat bantuan.
Namun dalam beberapa dekade belakangan ini, kemajuan yang besar telah dicapai dalam memahami depresi klinis dan gangguan bipolar. Sekarang, telah diketahui dengan baik bahwa kondisi ini bisa diatasi. Tetapi, bantuan tidaklah selalu mudah didapatkan. Mengapa?
Bagaimana jika perasaan itu terus ada selama periode waktu yang tidak biasa—mungkin dua minggu atau lebih? Selain itu, bagaimana jika suasana hati yang depresif menghalangi Anda untuk melakukan kegiatan secara normal, entah di tempat kerja, sekolah, entah dalam situasi sosial. Dalam kasus demikian, langkah yang bijaksana adalah berkonsultasi dengan pakar yang berkualifikasi untuk mendiagnosis dan mengobati gangguan depresif.
Sewaktu ketidak seimbangan biokimia tercakup, pengobatan medis mungkin diresepkan. Dalam kasus-kasus lain, program konseling mungkin direkomendasikan untuk membantu para penderita belajar menghadapi kondisinya. Kadang-kadang kombinasi kedua metode tadi memberikan hasil yang bermanfaat. Yang penting adalah mengambil inisiatif dan mencari bantuan. "Sering kali, penderita merasa takut atau malu dengan kondisi mereka," kata Lenore, pasien bipolar yang disebutkan di artikel sebelumnya. "Namun, yang justru paling memalukan adalah kalau Anda merasa punya masalah tetapi tidak mencari bantuan yang sangat Anda butuhkan."
Lenore mengatakan hal itu dari pengalamanya sendiri. "Saya terbaring di tempat tidur selama hampir setahun penuh," katanya. "Lalu, pada suatu hari, ketika saya merasa sedikit kuat saya memutuskan untuk menelepon dan membuat janji dengan dokter." Kondisi Lenore didiagnosis sebagai gangguan bipolar, dan pengobatan pun diresepkan. Ini terbukti sebagai titik balik dalam kehidupannya. "Saya merasa normal sewaktu saya meminum obat," kata Lenore, "meskipun saya harus selalu mengingatkan diri bahwa jika saya berhenti meminumnya, semua gejala lama itu akan kembali."
Bahkan setelah diagnosis dibuat dan pengobatan dimulai, kemungkinan besar gangguan afektif akan senantiasa menghadirkan tantangan bagi penderita. "Lucia, yang disebutkan sebelumnya, berterima kasih atas perawatan medis yang sangat bagus yang telah ia terima. "Menemui seorang pakar kesehatan mental sangat vital bagi saya untuk belajar menghadapi dan mengatasi perubahan suasana hati yang menyertai penyakit ini," katanya. Lucia juga menekankan pentingnya istirahat. "Tidur adalah kunci penting untuk menghadapi mania," katanya. "Semakin kurang tidur, semakin meningkat gejalanya. Bahkan sewaktu saya tidak bisa tidur, ketimbang bangun, saya telah melatih diri untuk berbaring dan istirahat."
Sheila, yang juga disebutkan sebelumnya,telah mendapati bahwa menulis buku harian bisa membantu, karena dia bisa mencurahkan perasaannya disana. Ia melihat adanya perbaikan yang cukup besar dalam cara pandangnya. Namun, masih ada tantangan-tantangan. "Keletihan, entah kenapa, membuat pikiran negatif menyusup ke dalam otak saya," kata Sheila. "Tetapi saya telah belajar untuk menekan itu atau setidaknya mengurangi volumenya."
Namun, bagaimana para anggota keluarga dan sahabat dapat membantu para penderita gangguan bipolar atau depresi?
MUNGKIN Anda mengetahui seseorang yang menderita depresi atau gangguan bipolar. Jika begitu, bagaimana Anda dapat memberikan dukungan? D.J.Jaffe, dari Aliansi Nasional untuk Penderita Penyakit Mental menawarkan nasihat yang masuk akal ini, "Jangan samakan penyakitnya dengan orangnya; sebaiknya, benci penyakitnya tetapi sayangi orangnya."
Seorang wanita bernama Susanna punya kesabaran dan kasih untuk melakukan tepat seperti itu. Ia mempunyai sahabat yang menderita bipolar. "Ada saat-saat manakala ia tidak tahan dekat-dekat dengan saya," kata Susanna. Sebaliknya dari meninggalkan temannya, Susanna melakukan riset untuk mengetahui gangguan bipolar. "Sekarang," katanya, "saya sadar betapa banyaknya sikap sahabat saya ini yang dipengaruhi oleh penyakitnya." Susanna merasa bahwa berupaya memahami sang penderita dapat menghasilkan imbalan yang menakjubkan. "Itu dapat membantu Anda semakin mengasihi dan menghargai sifat-sifat dia terlepas dari penyakitnya," katanya.
Apabila orang yang sakit adalah anggota keluarga, dukungan yang sepenuh hati sangatlah penting. Mario, yang disebutkan sebelumnya, belajar hal ini sejak awal. Istrinya Lucia, yang juga disebutkan sebelumnya, adalah pasien bipolar. "Pada mulanya," kata Mario, "saya dibantu dengan pergi bersama istri saya ke dokternya dan dengan membaca tentang penyakit aneh ini sehingga saya benar-benar mengenal apa yang kami hadapi. Saya dan Lucia juga banyak berbicara kepada satu sama lain dan terus berupaya menghadapi situasi apa pun yang berkembang seraya waktu berlalu."
Faktanya adalah bahwa dalam banyak kasus, depresi tidak akan membaik kecuali itu diobati secara medis. Ini khususnya demikian sewaktu seseorang sangat depresi, mungkin bahkan berpikir untuk bunuh diri. Dalam kasus seperti ini, perhatian profesional sangat penting. Namun ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memberikan dukungan. Tentu saja kesabaran dibutuhkan.
Untuk membantu para penderita, berupayalah untuk berempati. Cobalah pandang segala sesuatunya lewat mata sang penderita, bukan dari mata Anda. Jangan membebani orang itu dengan tuntutan yang tidak masuk akal. "Sewaktu saya diterima seperti apa adanya saya sekarang," kata Carl, yang berjuang melawan depresi, "lambat laun saya kembali merasakan hubungan yang akrab dengan orang lain. Dengan bantuan yang penuh kesabaran dari beberapa sahabat lama, saya sanggup membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan dan menikmati banyak sukacita dalam membantu orang-orang lain melakukan hal yang sama."
Tidak ada keraguan bahwa dengan menyediakan dukungan yang bermakna, para anggota keluarga dan sahabat dapat memainkan peranan yang besar untuk kesejahteraan sang penderita. "Saya kira saya sudah bisa mengendalikan kehidupan saya dengan cukup baik sekarang," kata Lucia. "Saya dan suami saya telah bekerja keras melewati hal ini bersama-sama, dan segala sesuatunya sudah lebih baik bagi kami."
so, kmu yg punya tmen/keluarga yg mengalami bipolar, atau bahkan kmu sendiri yg mengalaminya,
1. Jangan mendiagnosis dirimu sendiri kalau kamu mengalami bipolar,
pergilah ke dokter, periksakan dirimu. Itu akan lebih baik
2. Usahakan sebisa mungkin untuk tetap menjalin hubungan dengan keluarga/teman
3. Banyak istirahat/tidur, walaupun ga ngantuk, coba dhe dipaksain
4. Jangan malu untuk bercerita pada keluarga/teman, ak yakin mereka semua pasti maumembantu
5. Think Positive. Bipolar itu bisa disembuhin. Jangan putus asa. Teruslah berusaha.
For u who have this bipolar :
I hope u can be better. Dont be shy to tell ur fam/fren about this. Dont shy to ask for help. U can do it !!! Ur fam, Ur fren, d doctor, will try the best for u.
For u who have fam/fren who have this bipolar :
Recognise what ur fam/fren have. Look at hem/her. Dont look at his/her bipolar. Think, what will u do if u have it? Try to understand him/her. Give him/her ur love, attention, make him/her feel worthy. Make him/her feel that u love him/her. Dont let him/her feel alone.
I hope this can make evrythings better




0 comments:
Post a Comment